KPU Purworejo Beri Pembekalan ke Relawan Demokrasi

Graphic1PURWOREJO-Lima Komisioner KPU Purworejo memberikan pembekalan kepada 15 Relawan Demokrasi (Relasi) di aula KPU Purworejo, Rabu (13/11). Pembekalan dilakukan selama dua hari hingga Kamis (14/11) dengan materi hari kedua Forum Group Discussion (FGD). Ke-15 Relasi yang dibekali tersebut merupakan hasil seleksi dari 43 calon Relasi yang mendaftar ke KPU Purworejo beberapa waktu lalu.

Kelima anggota KPU tersebut Dulrokhim memberikan materi Pemahaman Peta Sosial, Purnomosidi, S.Pt Pentingnya Demokrasi, Pemilu, dan Partisipasi, Suwardiyo, S.Pd Pemahaman Tahapan Pemilu 2014, Akmaliyah, S.Pd.I Pengenalan Konstestan Pemilu 2014, dan Widya Astuti, SS, M.Par Kode Etik Relawan dan teknik Komunikasi.

Menurut Ketua KPU Purworejo Dulrokhim, tujuan dibentuknya Relasi ini untuk meningkatkan kualitas proses pemilu, meningkatkan partisipasi pemilih, meningkatkan kepercayaan publik terhadap proses demokrasi, dan membangkitkan kesukarelaan masyarakat sipil dalam agenda pemilu dan demokratisasi.

Program relawan demokrasi ini merupakan gerakan sosial yang dimaksudkan untuk meningkatkan partisipasi dan kualitas pemilih dalam menggunakan hak pilih. Program ini melibatkan peran serta masyarakat yang seluas-luasnya di mana mereka ditempatkan sebagai pelopor demokrasi bagi komunitasnya. Bentuk peran serta masyarakat ini diharapkan mampu mendorong tumbuhnya kesadaran tinggi serta tanggung jawab penuh masyarakat untuk menggunakan haknya dalam pemilu secara optimal.

“Program relawan demokrasi dilatarbelakangi oleh partisipasi pemilih yang cenderung menurun. Tiga Pemilu nasional terakhir dan pelaksanaan Pemilukada di berbagai daerah menunjukkan indikasi itu. Pada Pemilu nasional misalnya, yakni Pemilu 1999 (92%), Pemilu 2004 (84%) dan Pemilu 2009 (71%). Sementara di Purworejo pada Pileg 2004 (85.24%), Pilpres 2004 putaran I (82.56%), Pilpres II (80.47%), Pilbup 2005 (74.95%), Pilgub Jateng 2008 (62.46%), Pileg 2009 (67.90%), Pilpres 2009 (69.24%), Pilbub Purworeo I (62.87%), dan Pilbup II (58.80%), dan Pilgub Jateng 2013 (58.52%). Penurunan partisipasi pemilih inilah yang menjadi salah satu tantangan yang dihadapi dalam upaya untuk mewujudkan kesuksesan Pemilu 2014,” ujarnya.

Dulrokhim menambahkan, program Relasi juga dilatarbelakangi oleh inflasi kualitas pemilih. Tanpa mengabaikan apresiasi kepada pemilih yang menggunakan hak pilihnya secara cerdas, sebagian pemilih kita terjebak dalam pragmatisme. Tidak semua pemilih datang ke TPS atas idealisme tertentu tetapi ada yang didasarkan pada kalkulasi untung rugi yang sifatnya material,seperti mendapatkan uang dan barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari. Pragmatisme pemilih ini sebagian disumbang oleh tingkat literasi politik yang relatif rendah, melemahnya kesukarelaan masyarakat dalam agenda pencerdasan demokrasi, dan masifnya politik tuna ide dari kontestan pemilu.

“Pemilu 2014 mesti menjadi titik balik persoalan partisipasi pemilih. Angka partisipasi memilih harus meningkat dan inflasi kualitas memilih harus dipulihkan, sebab memilih adalah tindakan politik yang mulia. KPU bersama komponen bangsa lainnya memiliki tanggung jawab yang besar untuk memastikan titik balik itu terwujud,” tambahnya.

Dulrokhim juga menjelaskan, program Relasi ini melibatkan kelompok masyarakat yang berasal dari 5 segmen pemilih strategis yakni pemilih pemula, kelompok agama, kelompok perempuan, penyandang disabilitas dan kelompok pinggiran. Pelopor-pelopor demokrasi akan dibentuk di setiap segmen yang kemudian menjadi penyuluh pada setiap komunitasnya. Segmentasi itu dilakukan dengan kesadaran bahwa tidak semua komunitas mampu dijangkau oleh program KPU.

Program Relawan Demokrasi diharapkan mampu menumbuhkan kembali kesadaran positif terhadap pentingnya pemilu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada akhirnya relawan demokrasi ini dapat menggerakan masyarakat tempat mereka berada, agar mau menggunakan hak pilihnya dengan bijaksana serta penuh tanggung jawab, sehingga partisipasi pemilih dan kualitas Pemilu 2014 dapat lebih baik dibandingkan pemilu-pemilu sebelumnya.

        “Agar dapat menjalankan tugas sebagaimana mestinya, Relawan demokrasi diwajibkan mematuhi kode etik yang telah ditetapkan, yakni bersikap independen, imparsial, dan non partisan terhadap peserta Pemilu.  Tidak melakukan tindak kekerasan. Menghormati adat dan budaya setempat. Tidak bertindak diskriminatif. Dan tidak menerima pemberian dalam bentuk apapun dari peserta Pemilu yang menunjukkan indikasi keberpihakan atau gratifikasi,” harap Dulrokhim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: